Struktur Dewan Pendiri Garoet Institut :

Aam Abdussalam (Penasehat), Zaky Musthofa (Direktur Eksekutif ), Ade Abdullah ( Sekretaris ), Elfa Noviani( Bendahara ), Siti Ratna Maymunah ( Litbang )

Minggu, 09 Mei 2010

Belajar Berkebun di Kawepe

Minggu, 09 Mei 2010



CUACA panas begitu menyengat saat kaki menginjak kawasan Kebun Wisata Pasir Mukti (Kawepe) Citeureup, Kab. Bogor. Walaupun di kawasan tersebut banyak ditumbuhi aneka tumbuhan dan tanaman, namun tetap saja rindangnya pepohonan tidak bisa menghalau cuaca panas.

Peluh pun terus bercucuran. Telapak kaki terasa panas seperti terbakar, walaupun sudah mengenakan alas kaki. Itulah yang dirasakan sebagian besar peserta Family Trip (Fametrip) DPD Asita Jabar dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar ketika mengunjungi Kawepe Citeurerup, Kab. Bogor, belum lama ini.

Namun semua itu akan sirna seketika saat segelas air lemon cui mendinginkan kerongkongan. Rasanya segar dan nikmat, sekalipun rasa kecut sedikit muncul di ujung lidah.

Pengalaman seperti itu pasti akan Anda rasakan jika Anda datang dan berwisata di Kawepe Citeureup Bogor. Sebuah kawasan wisata kebun bagi para pencinta buah-buahan dan sayuran. Anda akan dimanjakan dengan aneka jenis buah-buahan, terutama saat musimnya tiba. Selain itu, pengalaman membajak sawah dan bermain lumpur pun siap menantang Anda.

Selain bermain lumpur, kita juga bisa mengamati dan mempelajari aneka tanaman buah tropis untuk menambah pengetahuan. Selain menikmati acara petik buah, yang merupakan salah satu acara andalan Kawepe. Tak hanya itu, kebun wisata agro ini merupakan wisata yang ramah lingkungan dengan panorama hamparan sawah di antara kebun buah dan kolam ikan. Melalui wisata agro yang mendidik dan menghibur, Anda akan mendapat pengenalan dan pengetahuan tentang pertanian. Anda pun akan diajari bagiamana menanam tanaman buah dalam pot (tambulampot). Khususnya untuk menghemat area penanaman, terutama di kawasan kota. Tersedia berbagai jenis tanaman buah, seperti jambu, belimbing, dan lain-lain. Ada juga paket pelatihan agrobisnis dan demo tambulampot bagi pengunjung.

Kebun anggrek merupakan kebun yang pertama kali dibuat di Kawepe. Pasalnya, si empunya kebun pencinta tanaman anggrek. Sebagian besar tanaman anggrek ditempatkan di bagian depan Kawepe.

Dulu, kawasan Pasir Mukti merupakan kawasan tandus dan gersang. Sekalipun terdapat Sungai Citeureup, tetap saja kawasan ini tidak menarik minat para investor untuk menanamkan modalnya guna mengembangkan kawasan tersebut. Namun sejak tahun 1978, ketika seorang perempuan asal Manado mencoba membuka sebuah kawasan wisata agro yang diiawali dengan membuka lahan untuk perkebunan anggrek, ternyata apa yang dilakukan perempuan ini cukup berdampak terhadap perkembangan perekonomian di sekitarnya. Kemudian dibukalah kebun wisata agro dengan konsep ramah lingkungan.

Masyarakat di sekitar Kawepe pun diajak mengembangkan kebun wisata ini. Mereka diberi tempat untuk berjualan hasil kerajinan tangan, seperti keset serta alat-alat rumah tangga yang terbuat dari logam setiap akhir pekan.

Memang, tempat ini hanya ramai pada saat akhir pekan atau libur panjang. Tak hanya itu, para pengunjung pun kebanyakan masyarakat di sekitar Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek). "Target kami untuk sementara memang pengunjung dari kawasan Jabotabek, namun untuk wilayah lain seperti dari Bandung, kami pun siap menerima," ujar pengelola, Deby Gintings.

Menurut Deby, Kawepe pengembangannya lebih diarahkan pada pendidikan dan pengetahuan tentang tanaman Indonesia, khususnya tanaman buah dan sayuran. Tak heran jika sebagian besar pengunjung Kawepe didominasi siswa, mulai siswa TK sampai mahasiswa perguruan tinggi. Mereka datang bukan hanya untuk berwisata, melainkan juga untuk belajar berkebun buah maupun sayuran. Tak hanya itu, mereka pun meneliti sejumlah tanaman yang termasuk langka.

Menurut Deby, sejak dibuka sebagai kebun wisata tahun 1982 lalu, pengunjung ke Kawepe setiap tahunnya terus meningkat. Bagi yang senang berkemah, disediakan pula camping ground yang berumput hijau di antara pepohonan dengan pemandangan asri kebun buah, hamparan sawah, aliran sungai, dan bukit karang.

Sungai Citeureup yang mengalir di belakang Kawepe merupakan batas areal alami yang masih dipertahankan keasliannya, selain areal persawahan di atasnya. Keberadaan pondokan-pondokan yang dibuat dari kayu menambah keasrian Kawepe.

Pengunjung yang datang tidak otomatis dapat menikmati buah-buahan yang ada di sana. Di luar paket yang memang disediakan, di mana salah satu kegiatannya memetik buah, mereka dilarang memetik buah yang ada di lokasi jika tidak ingin dikenai denda.

Kawepe yang menyebut dirinya sebagai kebun wisata agro yang ramah lingkungan, ternyata tidak ramah terhadap satwa, seperti keberadaan seekor kowak malam yang terkungkung dalam sebuah sangkar yang sangat kecil. Membuat sang kowak kesulitan bergerak. Selain itu, ketersediaan tempat sampah yang sedikit menyulitkan pengunjung dalam membuang sampah. (kiki kurnia/"GM")**

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar